Bagi yang mungkin sudah pernah melamar pekerjaan dan mengikuti psikotes mungkin tidak asing lagi dengan beberapa soal yang ada dibawah ini. Tetapi tahukah Anda, apa sih tujuan sebenarnya dari soal-soal yang diujikan kepada pelamar pekerjaan tersebut. Tentunya pihak perusahaan yang akan merekrut karyawan ingin mengetahui kualitas psikologis calon karyawannya. Psikologis dalam hal apa saja, mari kita bahas.

1. Jenis tes : Menghitung deret angka
Tujuan : Mengetahui kestabilan terhadap tekanan & daya pikir.
Penyikapan / Cara menghadapinya : Tenang, kerjakan dengan baik, tidak usah terpaku pada banyaknya, usahakan grafiknya lurus/stabil dari deret 1 s/d dst.

2. Jenis tes : Membuat gambar dari titik
Tujuan : Mengetahui kekuatan imajinasi peserta tes
Penyikapan / Cara menghadapinya : Tenang, gambar imajinasi harus berupa gambar benda tak hidup.

3. Jenis tes : Memutar gambar / melihat gambar yang terdiri dari bermacam bentuk
Tujuan : Mengetahui kemampuan menyelesaikan masalah dari berbagai sudut pandang
Penyikapan / Cara menghadapinya : Tenang, jangan terfokus dengan bentuk, lihat dari jauh/sisi lain

4. Jenis tes : Menjawab pertanyaan yang jumlahnya banyak dan berulang-ulang
Tujuan : Melihat kejujuran
Penyikapan / Cara menghadapinya : Tenang, jawab sejujurnya, jangan mereka-reka jawaban yang bagus/ideal karena bias terjebak, jawab apa adanya

5. Jenis tes : Menggambar pohon/menggambar bebas
Tujuan : Mengetahui ketelitian yang menyeluruh
Penyikapan / Cara menghadapinya : Tenang, buat gambar yang lengkap bagian-bagiannya. Misal: pohon , berarti harus ada akar, batang, ranting, daun, bunga, buah.

6. Jenis tes : Menceritakan jobdes pekerjaan sebelumnya (bagi yang sudah pernah kerja)
Tujuan : Mengetahui sejauh mana peserta mampu menjelaskan kepada orang lain dari hal yang belum diketahui hingga bener-bener tahu/mengerti
Penyikapan / Cara menghadapinya : Tenang, buat cerita yang detil, berurutan alurnya sehingga mudah dimengerti orang yang membacanya

Tambahan :
Pertanyaan personal :
-Pengetahuan umum/awal tetang perusahaan
-Motivasi bekerja di perusahaan tersebut, alasan pindah dari tempat kerja sebelumnya
-Kelebihan dan kekurangan diri
-Tentang gaji yang diinginkan

Cara Menyikapinya :
-Jawab secara umum tapi jelas dan tepat
-Jawab dengan pertimbangan : ingin kesejahteraan yang lebih baik, meningkatkan pengetahuan dan pengalaman berinteraksi dengan banyak orang
-Jawab sikap personal diri yang menonjol, misal rajin, tekun, ulet, bias bekerja sama, dll
-Jawab aja yang sesuai standard perusahan dan starandard pasar dengan pertimbangan biaya hidup sehari-hari.

Tulisan ini merupakan hasil ngobrol dengan senior saya saat saya ke Jakarta.

Semoga bermanfaat.

Hubungan Tidur dan Kecerdasan

Posted: 4 Juli 2010 in Kesehatan

Pernahkah Anda mengalami pada saat bangun tidur badan malah sakit atau terasa pusing di kepala? Mungkin sebagian dari kita sering mengalaminya. Karena seringnya saya mengalami hal tersebut maka iseng-iseng saya searching di internet untuk mencari tahu kenapa bisa begitu. Akhirnya saya menemukan satu artikel yang mungkin berguna bila saya sharing di blog saya. Artikel tersebut tentang tidur.

Ada apa dibalik tidur dan sudah benarkah cara kita tidur? Tidur, manusia normal yang berada di atas bumi pasti melakukan aktifitas ini, meskipun cuma 1 jam tiap hari. Jaman dahulu kala orang tidur memakai bantal kayu atau batu atau bahkan tidak memakai bantal. Sekarang aja enak, orang tidur pakai yang empuk-empuk.

Kebiasaan tidur dengan bantal kayu atau batu, menyebabkan orang-orang dahulu bisa bangun dengan segar bugar, karena tubuh mereka bisa beristirahat total saat tidur. berbeda dengan mereka yang tidur di atas kasur empuk, tubuh mereka tidak bisa istirahat dengan total, karena saling menekan dengan alas tidurnya.

Posisi tidur yang benar adalah tubuh miring ke kanan dengan kaki bagian atas di tekuk, dan tangan kiri sebagai bantal. Tidur dengan posisi ini akan mengalirkan darah ke otak dengan sempurna, karena posisi kepala lebih rendah dari jantung.

Posisi tidur yang membuat bodoh adalah : terlentang, tengkurap, dan kaki mengangkang. Posisi ini diibaratkan sebagai cara tidurnya binatang, karena aliran darah tidak lancar, perut dan dada tertekan, juga aliran darah ke otak juga terhambat.

Saat tidur yang baik adalah jam 20.00 WIB – 01.00 Pagi. Selanjutnya 01.00-04.00 digunakan untuk belajar, pukul 04.00 – 06.00 untuk olahraga, dan seterusnya…

Saat tidur yang tidak baik adalah pukul 06.30 WIB setelah matahari terbit, pada tengah hari pukul 11.30 – 12.00 WIB dan pukul 17.30 WIB saat matahari tenggelam. Tidur pada saat tersebut akan mengakibatkan seseorang linglung dan separuh kesadarannya hilang, diakibatkan oleh keseimbangan alam yang pada waktu-waktu tersebut harus berada pada kondisi sadar.

Tidur yang baik berada dalam keadaan atau ruang yang gelap, terhindar dari cahaya yang menyengat dan silau. Rangsang cahaya yang terlalu banyak, menyebabkan otak tidak optimal dalam melakukan defragmentasi data-data yang terekam sebelum tidur, hal ini akan berdampak kepada daya ingat pada jangka waktu yang lama.

Jadi kalo masih ada yang salah dengan tidur Anda, sekaranglah saatnya memperbaiki tidur kita. Kualitas tidur yang baik akan sangat menunjang kita menjalani kesibukan dan rutinitas sehari-hari.

sumber : http://tips-aja.blogspot.com

Bagaimana menjawabnya?

Posted: 22 Mei 2010 in Renungan

Ketika kita ditanyakan beberapa pertanyaan dibawah ini, mungkin kita akan terdiam membisu seribu bahasa dan sulit sekali menjawabnya. Tulisan ini saya kumpulkan dari teman-teman saya disebuah forum.

1. Berapa peluh yang keluar saat ayah berkerja hanya karena ingin melihat kamu berprestasi?
2. Ibu bisa merasakan saat kamu sakit, tetapi apa kamu bisa merasakan saat beliau sakit?
3. Betapa bahagianya ayah dan ibu saat kamu berhasil, tapi apa dalam benak kamu terfikir untuk membalas kebaikanya, membalas semua yang telah mereka berikan kepadamu?
4. Ibu memberi perhatian 1 hari tapi kamu bilang bawel, kamu memberi perhatian 1 detik kepada beliau yang dirasakannya adalah sejuta kebahagiaan.
5. Kamu hanya tahu surga di telapak kaki ibu, tapi apa kamu pernah berusaha menggapainya?
6. Apa kamu pernah tau apa makna dibalik senyuman ayah saat kamu membuatnya kecewa?
7. Sudah berapa tetes air mata yang ibu keluarkan cuma karena kebandelan dan kebodohanmu?
8. Apakah kamu pernah mendengar ibu minta imbalan kepadamu?
9. Tahukah kamu bahwa 1 sifat burukmu menjadi sejuta kesedihan bagi ayah dan ibu?
10. Apa kamu tahu sudah berapa banyak doa yang ibu panjatkan hanya untuk kamu?
11. Pernahkah kamu memikirkan sedikit saja perasaan ibu saat kamu tak lagi bersamanya?
12. Pernahkah kamu bisa mengenal lebih dalam orangtuamu sebagaimana mereka mengenalmu?
13. Pernakah kamu meminta maaf saat kamu berbuat salah kepada ayah dan ibumu?
14. Apa yg akan kamu ucapkan kepada ayah dan ibumu jika kamu tahu kalo besok kamu akan meninggal?
15. Apa kamu sudah membuat orangtuamu bangga?

PERTANYAAN INI CUMA BISA DIJAWAB OLEH HATI KITA TAPI APA BENAR JAWABAN DARI HATI KITA YANG TERUCAP?

Mungkin pertanyaan ini cuma bisa di jawab dengan bakti kita kepada kedua orang tua kita. Manfaatkan waktu sebaik mungkin bila masih ada mereka. Kalo mereka sudah tiada kita juga bisa berbakti dengan mengirimkan doa untuk mereka, besedekah atas nama mereka.

Kata-kata di atas merupakan wujud syukur. Syukur merupakan kualitas hati yang terpenting. Dengan bersyukur kita akan senantiasa diliputi rasa damai, tentram dan bahagia. Sebaliknya, perasaan tak bersyukur akan senantiasa membebani kita. Kita akan selalu merasa kurang dan tak bahagia.

Kita sering memfokuskan diri pada apa yang kita inginkan, bukan pada apa yang kita miliki.
Katakanlah anda telah memiliki sebuah rumah, kendaraan, pekerjaan tetap, dan pasangan yang terbaik. Tapi anda masih merasa kurang. Pikiran anda dipenuhi berbagai target dan keinginan. Anda begitu terobsesi oleh rumah yang besar dan indah, mobil mewah, serta pekerjaan yang mendatangkan lebih banyak uang.

Kita ingin ini dan itu. Bila tak mendapatkannya kita terus memikirkannya. Tapi anehnya, walaupun sudah mendapatkannya, kita hanya menikmati kesenangan sesaat. Kita tetap tak puas, kita ingin yang lebih lagi.

Jadi, betapapun banyaknya harta yang kita miliki, kita tak pernah menjadi “KAYA” dalam arti yang sesungguhnya.

Mari kita luruskan pengertian kita mengenai orang kaya. Orang yang kaya bukanlah orang yang memiliki banyak hal tetapi orang yang dapat menikmati apapun yang mereka miliki. Tentunya boleh-boleh saja kita memiliki keinginan, tapi kita perlu menyadari bahwa inilah akar perasaan tak tenteram. Kita dapat mengubah perasaan ini dengan berfokus pada apa yang sudah kita miliki.

Cobalah lihat keadaan di sekeliling Anda, pikirkan yang Anda miliki, dan syukurilah. Anda akan merasakan nikmatnya hidup. Pusatkanlah perhatian Anda pada sifat-sifat baik atasan dan orang-orang di sekitar Anda.
Mereka akan menjadi lebih menyenangkan

Seorang pengarang pernah mengatakan,

”Menikahlah dengan orang yang Anda cintai, setelah itu cintailah orang yang Anda nikahi.”
Ini perwujudan rasa syukur.

Ada cerita menarik mengenai seorang kakek yang mengeluh karena tak dapat membeli sepatu, padahal sepatunya sudah lama rusak. Suatu sore ia melihat seseorang yang tak mempunyai kaki, tapi tetap ceria. Saat itu juga si kakek berhenti mengeluh dan mulai bersyukur.

Hal kedua yang sering membuat kita tak bersyukur adalah kecenderungan membanding-bandingk an diri kita dengan orang lain. Kita merasa orang lain lebih beruntung. Kemanapun kita pergi, selalu ada orang yang lebih pandai, lebih tampan, lebih cantik, lebih percaya diri, dan lebih kaya dari kita.

Saya ingat, pertama kali bekerja saya senantiasa membandingkan penghasilan saya dengan rekan-rekan semasa kuliah. Perasaan ini membuat saya resah dan gelisah. Sebagai mantan mahasiswa teladan di kampus, saya merasa gelisah setiap mengetahui ada kawan satu angkatan yang memperoleh penghasilan di atas saya.

Nyatanya, selalu saja ada kawan yang penghasilannya melebihi saya. Saya menjadi gemar gonta-ganti pekerjaan, hanya untuk mengimbangi rekan-rekan saya.

Saya bahkan tak peduli dengan jenis pekerjaannya, yang penting gajinya lebih besar. Sampai akhirnya saya sadar bahwa hal ini tak akan pernah ada habisnya. Saya berubah dan mulai mensyukuri apa yang saya dapatkan.
Kini saya sangat menikmati pekerjaan saya.

Rumput tetangga memang sering kelihatan lebih hijau dari rumput di pekarangan sendiri.

Ada cerita menarik mengenai dua pasien rumah sakit jiwa.

Pasien pertama sedang duduk termenung sambil menggumam, ”Lulu, Lulu.”

Seorang pengunjung yang keheranan menanyakan masalah yang dihadapi orang ini. Si dokter menjawab, ”Orang ini jadi gila setelah cintanya ditolak oleh Lulu.”

Si pengunjung manggut-manggut, tapi begitu lewat sel lain ia terkejut melihat penghuni lain itu terus menerus memukulkan kepalanya di tembok dan berteriak, ”Lulu, Lulu”. ”

Orang ini juga punya masalah dengan Lulu? ” tanyanya keheranan.

Dokter kemudian menjawab, ” Ya, dialah yang akhirnya menikah dengan Lulu.”

Hidup akan lebih bahagia kalau kita dapat menikmati apa yang kita miliki. Karena itu bersyukur merupakan kualitas hati yang tertinggi.

Saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan cerita mengenai seorang ibu yang sedang terapung di laut karena kapalnya karam, namun tetap berbahagia. Ketika ditanya kenapa demikian, ia menjawab,

”Saya mempunyai dua anak laki-laki. Yang pertama sudah meninggal, yang kedua hidup ditanah seberang. Kalau berhasil selamat, saya sangat bahagia karena dapat berjumpa dengan anak kedua saya. Tetapi kalaupun mati tenggelam, saya juga akan berbahagia karena saya akan berjumpa dengan anak pertama saya di surga.”

Bersyukurlah !

Bersyukurlah bahwa kamu belum siap memiliki segala sesuatu yang kamu inginkan. Seandainya sudah, apalagi yang harus diinginkan?

Bersyukurlah apabila kamu tidak tahu sesuatu. Karena itu memberimu kesempatan untuk belajar.

Bersyukurlah untuk masa-masa sulit. Di masa itulah kamu tumbuh…

Bersyukurlah untuk keterbatasanmu. Karena itu memberimu kesempatan untuk berkembang.

Bersyukurlah untuk setiap tantangan baru. Karena itu akan membangun kekuatan dan karaktermu.

Bersyukurlah untuk kesalahan yang kamu buat. Itu akan mengajarkan pelajaran yang berharga.

Bersyukurlah bila kamu lelah dan letih. Karena itu kamu telah membuat suatu perbedaan.

Mungkin mudah untuk kita bersyukur akan hal-hal baik…

Hidup yang berkelimpahan datang pada mereka yang juga bersyukur akan masa surut…

Rasa syukur dapat mengubah hal yang negatif menjadi positif …

Temukan cara bersyukur akan masalah-masalahmu dan semua itu akan menjadi berkah bagimu …

(Oleh : Ning Sriwiratri)

Antara Nikah dan Kuliah

Posted: 5 Agustus 2007 in Taushiyah

Menikah memang dianjurkan dalam Islam terutama mereka yang masih muda usia. Rasulullah SAW bersabda, “Wahai para pemuda, siapa diantar kalian yang telah mampu, maka menikahlah.”

Namun bila belum mampu baik secara finansial maupun juga dari segi-segi yang lain, maka menikah bukan merupakan solusi yang terbaik. Karena harus menambah beban kehidupan yang lebih banyak. Karena pernikahan itu tidak lain adalah tanggung-jawab.

Karena itu sikap tawazun adalah lebih utama. Memang banyak sekali orang yang menganjurkan menikah dini dengan disertai dengan beragam dalil serta contoh. Untuk beberapa kasus dan kondisi, bisa saja menjadi solusi tepat, tetapi bukan berarti menikah dini menjadi satu-satunya solusi tetap. Bahkan bila salah perhitungan, bukan solusi yang didapat melainkan masalah baru. Karena itu Rasulullah SAW pun menganjurkan para pemuda untuk menikah dengan terlebih menyebutkan bila sudah mampu dan siap. Hadits itupun juga menjelaskan bagaiman bila belum siap, yaitu disunnahkan untuk berpuasa.

Artinya, menikah muda memang sebuah solusi pada suatu kasus tapi bukan berarti berlaku pada semua kasus. Ada kondisi tertentu dimana seseorang memang belum siap untuk pernikahan, karena itu ada solusi lain yang ditawarkan dalam hadits itu.

Jadi pertimbangkan masak-masak dan minta juga penilaian orang-orang yang telah menikah, pikirkan susah dan senangnya, terutama juga restu dari orang tua yang tentunya punya sekian banyak harapan. Bila ternyata semua memberi lampu hijau dan kita yakin dengan kemampuan kita, maka bismillah, segera menikah.

Sebaliknya, bila tentangan dan tantangannya jauh lebih banyak, maka berpikir dua tiga kali lebih bijaksana ketimbang sekedar memaksakan kehendak.

Sumber : www.syariahonline.com

Buah dari Kejujuran

Posted: 5 Agustus 2007 in Hikmah

Pada suatu malam (menjelang dini hari), khalifah Umar bin Khattab r.a. disertai pengawalnya melakukan inspeksi ke pinggiran kota. Beliau mendengar percakapan dua orang wanita, ibu dan anak gadisnya.

Ibu : ”Campur saja susunya dengan air (agar kelihatan banyak)”

Anak : ”Bagaimana saya harus melakukannya sedang amirul mukminin (khalifah Umar) telah mengeluarkan pernyataan yang melarangnya?”

Ibu : ”Khalifah Umar toh tidak mengetahuinya.”

Anak : ”Kalau khalifah Umar tidak mengetahuinya, maka pasti Allah mengetahuinya.”

Percakapan antara keduanya berkesan sekali di hati Umar r.a. Keesokan harinya ia menyuruh pengawalnya menyelidiki kedua wanita itu. Setelah diketahui bahwa putri itu seorang gadis, lalu, Umar memanggil putranya, ’Aashim dan menawarkan gadis itu untuk dinikahinya, dan disuruhnya putranya itu untuk melihat langsung paras wajahnya, seraya berpesan kepadanya, ”Pergilah wahai anakku. Lihatlah gadis itu, nikahilah dia, dan aku berharap dia akan melahirkan seorang pahlawan yang mampu memimpin bangsa Arab.”

Pernikahan pun berlangsung, dan dari mereka lahir seorang perempuan yang dinikahi oleh Abdul Aziz bin Marwan. Kemudian dari pernikahan itu lahirlah Umar bin Abdul Aziz, khalifah kelima yang sangat adil.

Tepat sekali ramalan Khalifah Umar bin Khattab r.a. Sifat amanat dan kejujuran menjadi penghubung antara Khalifah Umar bin Khattab dan Umar bin Abdul Aziz.

Sumber : Buku ”Hikmah dalam Humor, Kisah dan Pepatah Jilid 1-6”, A. Azim Salim Basyarahil”

Perencanaan Karir Aktivis Dakwah

Posted: 5 Agustus 2007 in Inspirasi

Pembicaraan mengenai karir belum banyak terungkap di kalangan aktivis dakwah. Buktinya? Tanyakanlah kepada 10 orang yang anda kenal sebagai aktivis dakwah (sekolah ataupun kampus) mengenai apa yang akan mereka lakukan setelah menyelesaikan studinya? Lebih kongkrit lagi, apa sih pekerjaan yang akan mereka tekuni untuk mendapatkan penghasilan? Saya yakin, paling tidak saya pernah bertanya kepada lebih dari 10 orang aktivis kampus, dari sepuluh orang itu yang bisa menjawab secara meyakinkan paling banyak hanya satu orang. Yah, satu orang!

Banyak hal yang bisa diungkapkan untuk menjelaskan fenomena ini. Satu diantaranya adalah, ketidakjelasan orientasi masa depan, terutama yang berkaitan dengan sumber penghasilan kita, ya karir itu. Padahal, kalau kita mengetahui peran dan fungsi karir dalam aktivitas sebagai da’i, optimalisasi dan efektivitas kita sebagai da’i akan sangat terbantu bila kita memahaminya.

Perencanaan karir, sama halnya dengan perencanaan yang lain, akan memberikan arah/orientasi terhadap apa yang akan kita lakukan di masa depan terkait dengan apa yang akan kita lakukan sebagai sumber penghasilan kita. Perencanaan karir memungkinkan bagi kita untuk mengambil langkah-langkah strategis dan taktis dalam aktivitas keseharian kita, sehingga kita lebih terfokus untuk menuju hal yang memang kita ingin lakukan, tidak hanya sekedar mengikuti arus dan tren yang berkembang saja.

Perencanaan karir akan membuat berusaha untuk mengelaborasi lebih jauh mengenai diri kita, terutama mengenai kelebihan-kelebihan kita, hal-hal yang kita sukai dan nilai-nilai yang kita yakini dalam diri kita atau bahkan kekurangan diri dan hal-hal yang tidak bisa kita lakukan.

Sangat mungkin terjadi pada kita, bila tidak memiliki perencanaan karir yang matang, tidak akan pernah memiliki orientasi yang jelas terhadap apa yang akan menjadi sumber penghasilan kehiduoan kita. Pikiran, tenaga dan aktivitas kita pun tidak akan terfokus pada hal yang benar-benar kita inginkan, melainkan lebih kepada apa yang sedang menjadi tren.

Contoh sederhana misalnya, kalau sejak awal kita telah memutuskan untuk berkarir dalam pengembangan penjualan/penerbitan buku dan majalah, kita tidak perlu sibuk membeli koran untuk mencari lowongan pekerjaan atau tanya sana-sini mengenai pekerjaan ”apa saja yang penting kerja”. Kita akan lebih produktif misalnya, mencari tahu kepada penerbit/toko buku yang sukses dalam usahanya, bahkan mungkin kita perlu masuk dalam barisan toko buku itu untuk mengetahui core business strategicnya, sehingga di kemudian hari kita bisa lebih mengembangkannya lagi.

Bila sejak awal kita ingin mengembangkan karir dengan menjadi pegawai/karyawan/staff di perusahaan, atau institusi lainnya, maka pelatihan yang lebih bermanfaat untuk kita ikuti adalah bagaimana menembus dunia kerja, menulis resume secara efektif, memenangkan wawancara atau menghadapi tes masuk calon karyawan, dibandingkan ikut pelatihan jurnalistik atau entrepreneurship.

Perencanaan karir membuat kita dapat melihat secara lebih jelas lagi mengenai sumber penghasilan bagi kebutuhan hidup kita. Karir berbeda dengan perkerjaan, karir bisa berupa pekerjaan tetapi pekerjaan belum tentu sebuah karir. Begini ceritanya, dalam kamus Poerwadarminta makna karir sebenarnya adalah ”kemajuan dalam kehidupan; perkembangan dan kemajuan dalam pekerjaan, jabatan, dan sebagainya”. Sementara pekerjaan dimaknai sebagai ”kegiatan-kegiatan untuk mencari nafkah”. Jadi, ”karir” adalah pekerjaan juga, tetapi bukan sembarang pekerjaan. Suatu pekerjaan yang dilakukan untuk mencari nafkah disebut sebagai ”karir” hanya apabila ia memberikan peluang untuk maju dan berkembang. Kebayang bedanya? Misalnya, kalau pekerjaannya menjadi penjaga pintu tol? Atau petugas administrasi? Resepsionis? Itu pekerjaan atau karir yah?

Kita tentunya tidak ingin hanya sekedar ”bekerja” saja dan mendapat penghasilan, lebih dari itu disamping kita memiliki misi besar untuk mengkondisikan lingkungan kita untuk terwarnai dengan nilai-nilai Islam. Hal ini semakin mengharuskan kita untuk berpikir dan merencanakan tentang karir ketimbang sekedar bekerja. Kecuali jika memang sejak awal, kita sudah memutuskan untuk ”yang penting kerja!” ya sudah. Anda akan melewatkan begitu banyak kesenangan dan kenikmatan dalm mengeksplorasi dan mengelaborasi diri dalam berbagai potensi yang Allah telah berikan kepada kita. Akhirnya, kita sulit untuk menjadikan diri kita sebagai penentu dalam pekerejaan kita, kita sulit mengarahkan apalagi mengembangkan apa yang kita lakukan, karena kita tidak mempunyai peta dari perjalanan karir kita, yang mungkin juga perjalanan hidup kita.

Jadi, apa sih ”makhluk” perencanaan karir itu?
Perencanaan karir adalah sebuah aktivitas yang dilakukan secara terarah dan terfokus dengan berdasarkan pada potensi (minat/bakat/kemampuan/keyakinan/nilai-nilai) yang kita miliki untuk mendapatkan sumber penghasilan yang memungkinkan kita untuk maju dan berkembang baik secara kualitas (hidup) maupun kuantitas (gaji/jabatan dan tanggung jawab yang kita dapatkan). Huuh.. nangkep khan?

Secara global perencanaan karir itu terdiri dari 8 langkah, yaitu:

1. Mengembangkan rencana karir. Pikirkanlah mengenai apa yang akan kita lakukan dan langkah-langkah strategis apa yang dibutuhkan untuk melakukan hal-hal yang kita inginkan.

2. Tinjaulah kemampuan serta minat yang kita miliki. Pikirkan secara serius dan mendalam hal-hal yang kita sukai, mampu kita kerjakan dengan baik, kepribadian yang kita miliki serta nilai-nilai yang kita yakini kebenarannya.

3. Cobalah mencari tahu jenis-jenis karir/pekerjaan yang mendekati dengan diri kita, ya itu tadi, kemampuan serta minat yang kita miliki, latar belakang pendidikan kita, gaji yang kita harapkan, kondisi kerja yang kita inginkan serta hal-hal lain yang akan memberikan kejelasan arah dan fokus karir/pekerjaan kita.

4. Selanjutnya, bandingkanlah keterampilan dan minat yang kita miliki dengan jenis karir/pekerjaan yang telah kita pilih. Jadi, karir/pekerjaan yang paling sesuai dan dekat dengan diri kita sangat mungkin menjadi karir/pekerjaan bagi kita.

5. Kembangkanlah tujuan karir/ pekerjaan yang kita pilih. Hal ini akan menjadi panduan yang sangat penting bagi kita untuk menyusun langkah-langkah taktis selanjutnya.

6. Ikutilah pendidikan atau pelatihan yang mendekatkan kita dengan tujuan karir/perkerjaan yang telah kita buat.

7. Hal penting yang tidak boleh dilewatkan adalah masalah keuangan. Kita mungkin akan berpikir mengenai sumber-sumber dan besarnya uang yang kita butuhkan untuk mewujudkan karir kita.

8. Cobalah minta nasehat dari beberapa sumber yang anda yakini dapat membantu anda memberikan penjelasan dan arahan megenai karir/pekerjaan pilihan anda.

Gimana, kebayang kan perjalanan perencanaan karir kita? So…? Kalau kita yakin bahwa perencanaan karir kita ini lebih banyak manfaatnya daripada mudharatnya, do it now! Memang, orang yang memiliki perencanaan karir belum dapat dipastikan akan memperoleh apa yang dia inginkan, tapi sudah dapat dipastikan bahwa orang yang tidak memiliki perencanaan karir tidak akan mendapatkan apa-apa. []

Oleh : Didit Rahardi, S.Psi.
Lembaga Pengembangan SDM Insanika
Sumber : Majalah Al Izzah
By : Jundullah

Ini adalah mengenai nilai kasih ibu dari seorang anak
yang mendapatkan ibunya sedang sibuk menyediakan makan
malam di dapur. Kemudian dia menghulurkan sekeping
kertas yang bertulis sesuatu. Si ibu segera
membersihkan tangan dan lalu menerima kertas yang
dihulurkan oleh si anak dan membacanya.

Ongkos upah membantu ibu:
1) Membantu Pergi Ke Warung: Rp20.000
2) Menjaga adik Rp20.000
3) Membuang sampah Rp5.000
4) Membereskan Tempat Tidur Rp10.000
5) menyiram bunga Rp15.000
6) Menyapu Halaman Rp15.000
Jumlah : Rp85.000

Selesai membaca, si ibu tersenyum memandang si anak
yang raut mukanya berbinar-binar. Si ibu mengambil
pena dan menulis sesuatu dibelakang kertas yang sama.

1) OngKos mengandungmu selama 9 bulan-GRATIS
2) OngKos berjaga malam karena menjagamu -GRATIS
3) OngKos air mata yang menetes karenamu-GRATIS
4) OngKos Khawatir kerana selalu memikirkan keadaanmu-
GRATIS
5) OngKos menyediakan makan minum, pakaian dan
keperluanmu - GRATIS
Jumlah Keseluruhan Nilai Kasihku - GRATIS

Air mata si anak berlinang setelah membaca.
Si anak menatap wajah ibu, memeluknya dan berkata,
"Aku Sayang Ibu".

Pengamen Langganan

Posted: 3 Agustus 2007 in Renungan

Kalau ada Pengamen, berapa yang biasanya Anda beri..???? seratus..??
dua ratus…??? Lima ratus..?? Atau berapa..???

Ada banyak pengamen yang pernah saya temui, atau lebih tepatnya, saya
temukan. Banyak hal, mulai dari yang berkeliaran antar-antar rumah,
dari yang sekedar tepuk tangan, ecek-ecek, pakai gitar, harmonika,
atau bergroup dipadu antara gitar, ecek-ecek, dan sesekali dengan
gallon aqua kosong. Ada pula yang memakai tape deck, dan sesekali
dipadu dengan aksi jogetan, atau terkadang yang lebih parah lagi,
dengan berdandan ala banci, naudzubillah. ..

Dari sekian itu, tentulah terlepas dari alat musik yang digunakan,
ataupun cara yang digunakan, banyak pengamen yang memiliki karakter
yang berbeda pula. Salah satunya adalah yang akan saya ceritakan kali
ini.

Keluarga kami memang tidak tahu namanya, namun setidaknya Ada banyak
hal yang saya amati dari pengamen satu ini. Kemeja lengan panjang,
dipadu dengan sebuah topi yang bertengger dikepalanya menjadi semacam
seragam baginya. Kulitnya yang coklat gelap dan wajahnya yang khas
dengan gigi yang agak menonjol ke depan menjadi ciri khas yang mudah
dikenali dari orang ini.Celana jeans nya dan sebuah sepatu kulit,
membuat orang ini lebih mudah disebut sebagai seorang mandor daripada
seorang pengamen. Barangkali hanya sebuah gitar tua ditangannya yang
menunjukkan bahwa orang ini adalah seorang musisi jalanan.

Tapi bukan penampilannya yang menarik perhatian kami sekeluarga. Namun
kebiasaan dari pengamen satu ini. Pengamen ini hampir bisa dipastikan
selalu mengunjungi rumah kami setiap pekannya. Setidaknya di hari
minggu pagi, setelah kami sekeluarga biasa pulang dari pengajian.

Ada hal unik yang menurut saya membedakannya dengan pengamen sejenis
yang kadang juga rutin ke rumah kami di akhir pekan. Adalah jika
pengamen lain langsung ngeloyor pergi setelah kami beri uang, maka
pengamen satu ini tidak. Bukan, bukan masalah ‘bonus’ ucapan terima
kasih darinya, karena saya rasa pengamen lain juga banyak yang
melakukan hal itu.

Namun bukan itu, ada hal unik jika kami memberi pengamen ini uang
lebih, 1000 misalnya, Pengamen ini masih terus melanjutkan lagunya
hingga selesai. Serius..!!! Sampai selesai..!!! bahkan terkadang kami
sekeluarga jadi khawatir tetangga kami berpikir yang bukan-bukan, “Kok
ngamennya lama banget..?? apa nggak dikasih uang ya..??”, padahal lho
sudah kami kasih uang. Tapi yah mau bagaimana lagi, memang begitu
itu… musisi jalanan ini tetap melanjutkan lagunya…

Jadilah ia menjadi semacam pengamen langganan bagi kami sekeluarga.
Maka setiap pekannya, hampir bisa dipastikan selalu kami sisihkan
beberapa untuk pengamen itu. Karena tahu kebiasaannya, maka tak
jarang kami langsung memberinya uang di awal-awal, melepaskan sebuah
senyum setelah itu ngeloyor masuk. Dan gitar pengamen itu tetap
melantunkan denting-denting melodi lagu-lagu khas zaman perjuangan.
Ketika ia sudah selesai, tak lupa ia tetap mengucapkan terima kasih
.Padahal kami sekeluarga sudah tidak kelihatan batang hidungnya,
sibuk di dalam rumah, sebuah hal yang sungguh unik bagi kami.

Melihat peristiwa ini, terbayang di benakku, perkataan ayah ketika aku
masih kecil dulu, “Memangnya pengamen hanya berhak dikasih ratusan
doang..??”, aku hanya bisa diam dan mengangguk membenarkan, Ayahku
melanjutkan, “kalau kamu dikasih seratusan, sama seribuan, lebih
senang mana..??, ribuan kan…??? nah begitulah kamu kalau harus
memberi….” begitulah ucapan ayah yang masih terus berada di benakku
hingga sekarang.

Pernah juga, aku mencoba hal ini, dalam sebuah perjalanan pulang ke
Ponorogo, bus sempat terhenti di terminal Madiun. Seorang bocah kecil
berkaus oblong naik, tak lama terdengar ia mengamen lepas sekenanya
dengan suara khas bocah kecil. Saat itu ia hanya menggunakan
ecek-ecek dari tutup botol. Teringat perkataan Ayah, segera kuambil
uang dari sakuku, dan kali ini, selembar limaribuan kuletakkan
ditangannya. Namun tanpa diduga, bocah itu berhenti sebentar
lantas…. “Makasih mas..!!” ucap bocah kecil itu dengan keras….
Hal itu kontan membuat seluruh isi bus menoleh ke arah kami, tak
terkecuali kakakku dan ibuku. Aku jadi tidak enak, tapi tak urung aku
hanya tersenyum juga.

Ya, memberi lebih, meski hanya seulas senyum atau ucapan terima kasih,
adalah sebuah budaya yang jarang kita temukan dewasa ini. Dan pengamen
tersebut sebenarnya secara tidak langsung telah memberikan pelajaran
berharga bagi kami, bahwa ketika ada orang yang berbuat baik kepada
kita, maka terima kasih mungkin tiadalah cukup, namun berikanlah
suatu hal yang terbaik bagi orang tadi. Ya, memberi lebih adalah
bagian sebuah profesionalitas, dan pengamen tersebut menunjukkan
profesionalismenya kepada kami.

Dalam perjalanan pulang,
ketika lama tak bertemu pengamen semacam mereka.

Toni Tegar Sahidi (20th)
Mahasiswa Ilmu Komputer,
FMIPA – Unibraw

Sepuluh adalah dua belas

Posted: 3 Agustus 2007 in Renungan

“Matematika di sekolah tidak akan bisa menjelaskan tentang nilai dan
harga sebuah kebaikan” (anonim).

Ada banyak profesi yang sebenarnya bagus, namun jika ditilik lebih
lanjut, bagus tidaknya sebuah profesi ternyata tidak hanya tergantung
pada apa profesinya, tapi juga siapa yang menjalankannya. Seperti
halnya pengamen langganan keluarga kami yang sudah pernah saya
ceritakan, demikian pula dengan penjual sate gule kambing ini.

Namanya pak Kandar, ia memiliki sebuah warung di dekat perempatan
jalan, dekat sebuah pabrik es dan pos polisi. Barangkali, namanya di
kota kami memang kalah tenar dengan penjual sate gule kambing lain
yang lebih senior, namun tak bisa dipungkiri bahwa sebenarnya
kualitas sate gule kambing Pak Kandar bisa saya katakan lebih
daripada yang lainnya. Hal ini terbukti bahwa tak sampai sore,
biasanya sate-nya sudah habis terjual. Jadi jangan heran, jika
selepas ashar anda akan sulit menemukan warung ini masih buka.
Mungkin karena tempatnya yang agak di pinggir kota membuat nama Pak
Kandar tidak terlalu dikenal.

Salah satu keunikan dari warung pak kandar ini adalah ia tidak
menggunakan kipas tangan seperti halnya tukang sate kebanyakan, ia
menggunakan kipas angin. Aku jadi tersenyum sendiri dengan hal ini.
“Pinter juga orang ini, nggak perlu capek-capek kipas-kipas”, pikirku
dalam hati. Namun keunikannya tak berhenti sampai disitu.

Pada mulanya aku berpikir bahwa orang ini tentulah melakukan
kesalahan. Kami hanya pesan sate per piring 10 tusuk, tapi yang ada
dihadapan kami ternyata 12 tusuk. Coba kuhitung lagi, dan memang dua
belas tusuk…!! Masih kurang yakin, coba kuhitung juga sate yang ada
di piring ibuku, dan ternyata memang sama, dua belas tusuk…!! punya
ayahku pun juga sama, dua belas tusuk.

“Kok dua belas, bu..??!!”, tanyaku pada ibuku.
“Kalau disini memang begitu, kalau beli sepuluh, kita dapatnya dua
belas tusuk…”
“kok bisa begitu ya..??”, tanyaku lepas.
Namun tak urung aku diam juga. Toh dua belas tusuk sate di hadapanku
ini justru membuatku kian girang. Memang siapa sih yang nggak senang
kalau dikasih bonus…??

Pak Kandar adalah satu diantara sekian pedagang yang mampu memberi
lebih. Dan sebenarnya masih banyak contoh yang lain. Seperti juga
seorang penjuah buah segar di gerbang belakang kampus saya di
brawijaya. Terkadang jika sedang ingin-inginnya, maka tak lupa
kusempatkan untuk membeli buah dari orang ini. Lumayan, seribu perak
dapat 3 potong buah. Yah sekedar pemenuhan gizi, pikirku.

Namun hal unik yang seringkali saya temui, adalah jika di sore hari,
selepas Ashar misalnya, setiap saya membeli buah dari orang ini, tak
lupa ia memberi tambahan.
“Tunggu mas, tak kasih bonus..!!”, ucapnya seraya memasukkan tambahan
2 potong buah ke dalam tas kresekku. “Lumayan… “pikirku. Jadilah
jika tidak dalam keadaan terpaksa, sekedar menyiasati aku pun membeli
buah hanya tiap sore saja. He…he..he sekedar mencari bonus.

Ya, masih banyak contoh-contoh lain disekitar kita, yang barangkali
kita perlu belajar banyak hal tentang hal ini. Sebuah pelajaran
dimana, barangkali, banyak orang yang memilih untuk menge-pas-kan
bahkan mengurangi timbangan mereka, atau demi keuntungan yang
maksimal, namun orang-orang semacam Pak Kandar dan penjual buah tadi
memilih untuk melakukan yang sebaliknya. Mereka memberi lebih. Dan
itu tentu menyenangkan para pelanggannya. Mereka tak hanya menjual
produk, tapi juga memberi pelayanan.

Anis Matta mengatakan, bahwa orang-orang yang mampu memberi dan
berkorban lebih, sebenarnya mereka adalah orang yang tidak terikat
akan dunia. Ya, dunia, baginya seperti sebuah falsafah orang jawa,
urip mung mampir ngombe” (hidup hanya mampir untuk minum). Ada
banyak alasan kita memberi lebih. Ada yang karena ingin dipuji, ingin
mendapatkan image yang bagus, atau juga hal yang patut kita
perhitungkan, kejujuran. Seperti saya pernah membaca sebuah cerita
tentang seorang pedagang buah, yang jika seseorang membeli selusin,
maka ia selalu menambah dengan satu buah lagi. Ya, baginya selusin
adalah tiga belas. Ia beralasan bahwa ia khawatir jika diantara ke
dua belas buah yang dijualnya tadi, mungkin terdapat satu atau dua
yang rusak atau tidak layak.

Namun bagaimanapun juga, memberi lebih tak harus lewat barang. Seperti
seorang teman di rohis SMA ku dulu. Sebut saja Anang namanya, setiap
ia ku mintai tolong untuk mengantarkanku pulang ke ujung jalan, eh
Dia justru mengantarkan aku pulang ke rumah yang tidak searah dengan
tujuan dia. Padahal rencana semula saya ingin naik kendaraan umum
saja, namun apa mau dikata.. memang begitu..!!

Ngomong-ngomong, saya jadi ingat akan sebuah pepatah.
——- “The more you give, The more you get..!!”,
apa benar begitu ya..?? wallahu alam.

Ponorogo, ketika pulang ke rumah.

Toni Tegar Sahidi (20th)
Mahasiswa Ilmu Komputer,
FMIPA – Unibraw